Saturday, June 22, 2013

Stories: Not Only a Class

            “Yo! Namaku Akura! Salam kenal,” sapanya dengan santai di depan kelas. Aku melihatnya dengan tatapan tidak peduli. Dia terlihat membosankan dan tidak berbeda dari anak anak kelas lainnya. Hidup menyenangkan dan gembira. Begitulah kira kira kesan pertamaku terhadap Akura.
            Hari ini kelasku kedatangan anak baru. Dia anak laki laki tinggi dengan wajah ceria. Dari tingkahnya, aku tahu dia anak tanpa beban. Selalu gembira ceria dan bersahaja. Kulihat dari tadi dia menggoda perempuan di lorong dan bercanda ria dengan anak anak kelas lain tanpa masalah. Huh, sudahlah, berhentu membicarakan anak itu.
            Kenalkan, aku Maku Riya, seorang anak perempuan kecil penghuni kelas 7-8. Kelas yang dinyatakan terasing dari kelas kelas lainnya. Tentu saja, kelasku bukan kelas biasa.
            “Kamu anak baru? Jangan coba coba di sini,” ujarku begitu dia menuju ke mejanya yang berada tepat di sebelahku. “Hee, ada apa, gadis kecil?” tanyanya santai.
“Kalau macam macam di sini, kau yang akan kena batunya. Lagipula,” aku yang marah dan jengkel karena disebut kecil langsung memukul tembok di sebelahku. “Jangan memanggilku kecil,” alhasil, tembok itu retak.
            “Jangan dianggap, Akura. Maku hanya berkata agar kau sedikit tenang,” sahut Luasa yang duduk di depan Akura. “Oh, Maku ya. Salam kenal,” sapanya santai. Aku hanya memalingkan wajahku kembali menatap langit yang mulai hitam. “Hujan, ya?”
      Pulang sekolah, hujan deras mengguyur kotaku. Aku hanya terdiam di teras sekolah menunggu hujan reda. Semua temanku sudah pulang karena mereka memang sudah siap payung. Kalau aku, tidak pernah seperti itu. Tidak ada yang pernah menyuruhku membawa payung karena memang, aku anak yatim piatu yang terlantar.
            “Belum pulang, Maku?” dari belakangku, tiba tiba berdiri Licu. “Hai, Licu,” balasku.
        “Maku? Kamu bicara sama siapa?” tiba tiba dari belakangku dan Licu, muncul Akura bersama temannya dari kelas lain, Agatha. Agatha yang tidak dapat melihat Licu tentu tidak tahu aku berbicara dengan siapa.”Aku pulang dulu, Akura, Maku,” ujarnya sambil menerobos hujan.
            Akura melihatku sambil tersenyum. “Tak kusangka kau dapat melihatnya juga. Berarti aku tidak sendirian,”
         Aku tidak kaget. Sudah kuduga Akura adalah anak yang sama denganku. Dia dapat melihat hal yang tidak bisa dilihat orang biasa. Kumaklumi, karena memang bukan anak biasa yang bisa masuk ke kelasku.
     “Bagus kamu dapat melihat Licu. Tidak salah kamu masuk ke kelas 7-8,” ujarku mengomentarinya walau dengan dingin.
            Tap. Tiba tiba dia memayungiku menggunakan payungnya. “Lebih baik pulang, sebelum malam. Akan ada yang berbahaya di sini jika malam malam,” ujar Akura santai. Untuk kali itu, aku baru kaget. “K, kamu bisa membaca masa depan?!” tanyaku.
            “Ya. Tapi aku tidak bisa membaca pikiran orang lain sepertimu,” balasnya dengan santai. “Oh, ya. Aku masih tidak mengerti apa yang kamu katakan di kelas tadi,” tanyanya.
             Kupandangi dia sambil melangkah meninggalkan sekolah. Kami berdua akhirnya pulang bersama, walau aku tidak tahu rumahnya dimana. Terserah dia mau mengikutiku, mengantarku hingga rumah, atau meninggalkanku ditengah jalan terserah.
               “Kau tidak tahu kelas 7-8 kelas seperti apa?” tanyaku. Dia menggeleng.
            “Kelas terkutuk dimana penghuninya adalah anak terkucilkan dari dunia dan memiliki kepribadian berlawanan dengan manusia biasa,” jelasku dengan menatapnya lekat.“Ke, kelas terkutuk? Kenapa?” tanya Akura bingung. Aku hanya terdiam. “Kau terlalu banyak bertanya,” balasku dingin.
            Tak lama, aku sampai di pertigaan depan rumahku. Aku memutuskan untuk berpisah dengannya. Setelah mengucapkan terima kasih secara singkat, aku pun menuju ke rumahku. Sebuah rumah suram di ujung jalan Elizbeath. Dari kejauhan, kulihat Akura pergi ke arah berlawanan. Sekali lagi aku hanya terdiam melihatnya.
            “Kenapa dia punya hawa yang berbeda?” gumamku dalam hati. “Aku tidak dapat membaca pikirannya,”
            Akura pun sama. Dari kejauhan dia menatapku dan bergumam. “Kenapa? Kenapa aku tidak bisa melihat masa depan Maku, ya?”
            Dan sejak saat itulah, aku, bahkan 7-8 berubah.

Bersambung               

No comments:

Post a Comment