“Yo! Namaku Akura! Salam kenal,” sapanya dengan santai di
depan kelas. Aku melihatnya dengan tatapan tidak peduli. Dia terlihat
membosankan dan tidak berbeda dari anak anak kelas lainnya. Hidup menyenangkan
dan gembira. Begitulah kira kira kesan pertamaku terhadap Akura.
Hari ini
kelasku kedatangan anak baru. Dia anak laki laki tinggi dengan wajah ceria.
Dari tingkahnya, aku tahu dia anak tanpa beban. Selalu gembira ceria dan
bersahaja. Kulihat dari tadi dia menggoda perempuan di lorong dan bercanda ria
dengan anak anak kelas lain tanpa masalah. Huh, sudahlah, berhentu membicarakan
anak itu.
Kenalkan, aku
Maku Riya, seorang anak perempuan kecil penghuni kelas 7-8. Kelas yang
dinyatakan terasing dari kelas kelas lainnya. Tentu saja, kelasku bukan kelas
biasa.
“Kamu anak
baru? Jangan coba coba di sini,” ujarku begitu dia menuju ke mejanya yang berada
tepat di sebelahku. “Hee, ada apa, gadis kecil?” tanyanya santai.
“Kalau macam macam di sini, kau yang akan kena batunya.
Lagipula,” aku yang marah dan jengkel karena disebut kecil langsung memukul
tembok di sebelahku. “Jangan memanggilku kecil,” alhasil, tembok itu retak.
“Jangan
dianggap, Akura. Maku hanya berkata agar kau sedikit tenang,” sahut Luasa yang
duduk di depan Akura. “Oh, Maku ya. Salam kenal,” sapanya santai. Aku hanya
memalingkan wajahku kembali menatap langit yang mulai hitam. “Hujan, ya?”
Pulang sekolah,
hujan deras mengguyur kotaku. Aku hanya terdiam di teras sekolah menunggu hujan
reda. Semua temanku sudah pulang karena mereka memang sudah siap payung. Kalau
aku, tidak pernah seperti itu. Tidak ada yang pernah menyuruhku membawa payung
karena memang, aku anak yatim piatu yang terlantar.
“Belum
pulang, Maku?” dari belakangku, tiba tiba berdiri Licu. “Hai, Licu,” balasku.
“Maku? Kamu
bicara sama siapa?” tiba tiba dari belakangku dan Licu, muncul Akura bersama
temannya dari kelas lain, Agatha. Agatha yang tidak dapat melihat Licu tentu
tidak tahu aku berbicara dengan siapa.”Aku pulang dulu, Akura, Maku,” ujarnya
sambil menerobos hujan.
Akura
melihatku sambil tersenyum. “Tak kusangka kau dapat melihatnya juga. Berarti
aku tidak sendirian,”
Aku tidak
kaget. Sudah kuduga Akura adalah anak yang sama denganku. Dia dapat melihat hal
yang tidak bisa dilihat orang biasa. Kumaklumi, karena memang bukan anak biasa
yang bisa masuk ke kelasku.
“Bagus kamu dapat
melihat Licu. Tidak salah kamu masuk ke kelas 7-8,” ujarku mengomentarinya
walau dengan dingin.
Tap. Tiba
tiba dia memayungiku menggunakan payungnya. “Lebih baik pulang, sebelum malam.
Akan ada yang berbahaya di sini jika malam malam,” ujar Akura santai. Untuk
kali itu, aku baru kaget. “K, kamu bisa membaca masa depan?!” tanyaku.
“Ya. Tapi
aku tidak bisa membaca pikiran orang lain sepertimu,” balasnya dengan santai.
“Oh, ya. Aku masih tidak mengerti apa yang kamu katakan di kelas tadi,”
tanyanya.
Kupandangi
dia sambil melangkah meninggalkan sekolah. Kami berdua akhirnya pulang bersama,
walau aku tidak tahu rumahnya dimana. Terserah dia mau mengikutiku, mengantarku
hingga rumah, atau meninggalkanku ditengah jalan terserah.
“Kau
tidak tahu kelas 7-8 kelas seperti apa?” tanyaku. Dia menggeleng.
“Kelas
terkutuk dimana penghuninya adalah anak terkucilkan dari dunia dan memiliki
kepribadian berlawanan dengan manusia biasa,” jelasku dengan menatapnya
lekat.“Ke, kelas terkutuk? Kenapa?” tanya Akura bingung. Aku hanya terdiam.
“Kau terlalu banyak bertanya,” balasku dingin.
Tak lama,
aku sampai di pertigaan depan rumahku. Aku memutuskan untuk berpisah dengannya.
Setelah mengucapkan terima kasih secara singkat, aku pun menuju ke rumahku.
Sebuah rumah suram di ujung jalan Elizbeath. Dari kejauhan, kulihat Akura pergi
ke arah berlawanan. Sekali lagi aku hanya terdiam melihatnya.
“Kenapa dia
punya hawa yang berbeda?” gumamku dalam hati. “Aku tidak dapat membaca
pikirannya,”
Akura pun
sama. Dari kejauhan dia menatapku dan bergumam. “Kenapa? Kenapa aku tidak bisa
melihat masa depan Maku, ya?”
Dan sejak
saat itulah, aku, bahkan 7-8 berubah.
Bersambung
No comments:
Post a Comment