Sunday, June 23, 2013

Stories: Kemah Dimulai

            Kelasku masih sepi jika aku berangkat kurang dari jam 7. Mungkin hanya ada aku dan temanku, Anna. Kami sering mengobrol bersama tentang hal hal di luar jangkauan manusia. Ya, begitulah.
`           “Maku! Mau lihat sihir baruku? Aku dapat merubah manusia menjadi capung! Kau mau mencoba terbang, kan? Bagaimana jika kau kuubah?” tanyanya bersemangat. Tentu aku hanya terdiam dan menggeleng. “Aku nanti tidak bisa kembali,” sahutku dingin. “Jyah, Maku,” serunya.
            “Tentang Akura, kau sudah tahu kekuatannya?” tanya Anna bersemangat. “Anak-tanpa-beban itu? Dia bisa melihat masa depan, hanya itu yang kutahu,” jawabku kurang peduli.
            Sambil melihatku, Anna tersenyum geli. Seakan aku baru ngelawak di depannya. “Hihihi, tumben Maku tahu tentang cowok! Biasanya dia dingin sekali dengan mereka,” ejek Anna. “Kelas kita kan tidak terarah. Sudah hancur,” komentarku dingin.
            “MAKUU!” tiba tiba dari belakangku muncul Akura. Aku melihatnya dengan tatapan seperti ingin membunuhnya. “Jangan pernah memegang bahuku,” aku memukul meja yang kududuki sampai retak. “Ehh, apa tidak apa apa mejanya kau retakkan?” sahutnya santai.
            Aku dan Anna saling berpandangan. Kami semua terdiam. Akhirnya Anna yang menjawab pertanyaannya. “Akura, meja itu tidak ada yang menduduki,”
            “Shiko Lana yang sebelumnya menduduki tempat itu di skors keluar sekolah lalu bunuh diri,” komentarku. “Dan sekarang, Licu berteman dengannya,”
            Greeek. Pintu kelasku tiba tiba terbuka. “Wah, ada apa? Kenapa suasananya suram?” ujar orang itu. Kami semua yang ada di dalam kelas menghela nafas bersama. Ternyata dia temanku, Werd. “Kalian membicarakan tentang Shiko ya,” gumamnya sedih.
            Jam di kelasku sudah mulai menunjukkan pukul 07.00 dan hanya 6 anak yang datang. Aku, Akura, Werd, Anna, Licore, dan Layu. Kalau mau tahu, anak di kelasku hanya 15 orang dan sekarang tersisa 8 saja. Mau tahu ke mana? Mereka depresi dan tidak kuat dengan kekuatan yang mereka miliki.
            Aku sedih, kenapa mereka tidak pernah mensyukuri apa yang mereka miliki. Justru dengan kekuatan itu mereka bisa bertambah kuat bukan melemah. Yang tersisa hanya beberapa dan jika mereka ada yang pergi lagi kelas ini akan dihapus. Wali kelasku, Mr. Rash, yang bilang. “Kami tahu kalian unik dan hebat. Tapi sampai kelas ini ada kasus lagi, kita hilangkan,” ujar beliau. Padahal kami nyaman di sini.
            “Akura anak baru. Dia belum tahu apa apa tentang kelas ini,” komentar Layu sama dinginnya denganku. “Kelas ini sudah mendapat 7 kasus pembunuhan dan kita yang tersisa,” balasku. “Aku ingin kau menguatkan hatimu atau kau akan seperti mereka,”
            “Kenapa kalian depresi? Bukannya menyenangkan punya kekuatan?” tanya Akura balik. “Bodoh. Anak anak seperti kita akan lebih mudah kena bullying karena kita tidak bisa bergaul seperti anak normal,” jawab Werd.
            “Yang dibutuhkan anak anak hanya 2, ilmu dan teman,” seru Anna serius. “Tanpa satu di antara mereka, kau lumpuh,”
            Brak! Pintu kelas kami terbuka dengan kencang. Masuk seorang guru dengan kemeja lusuh dan berantakan. Kacamata ber-frame tebalnya menghiasi wajah menyenangkan guru itu. Beliau adalah Mr. Rash. Orang baik dengan humor tinggi dan mudah mengajari kami. Sama seperti kami, beliau orang khusus.

            “Anak anak, bapak punya kabar gembira untuk kalian,” seru Mr. Rash bersemangat sambil mengacungkan jarinya. Kami semua hanya terdiam. Tidak ada yang berkomentar. “Kali ini, kelas kita ikut kemah!”

No comments:

Post a Comment