Kelasku masih sepi jika aku berangkat
kurang dari jam 7. Mungkin hanya ada aku dan temanku, Anna. Kami sering
mengobrol bersama tentang hal hal di luar jangkauan manusia. Ya, begitulah.
` “Maku! Mau lihat sihir baruku? Aku
dapat merubah manusia menjadi capung! Kau mau mencoba terbang, kan? Bagaimana
jika kau kuubah?” tanyanya bersemangat. Tentu aku hanya terdiam dan menggeleng.
“Aku nanti tidak bisa kembali,” sahutku dingin. “Jyah, Maku,” serunya.
“Tentang Akura, kau sudah tahu
kekuatannya?” tanya Anna bersemangat. “Anak-tanpa-beban itu? Dia bisa melihat
masa depan, hanya itu yang kutahu,” jawabku kurang peduli.
Sambil melihatku, Anna tersenyum
geli. Seakan aku baru ngelawak di depannya. “Hihihi, tumben Maku tahu tentang
cowok! Biasanya dia dingin sekali dengan mereka,” ejek Anna. “Kelas kita kan
tidak terarah. Sudah hancur,” komentarku dingin.
“MAKUU!” tiba tiba dari belakangku
muncul Akura. Aku melihatnya dengan tatapan seperti ingin membunuhnya. “Jangan
pernah memegang bahuku,” aku memukul meja yang kududuki sampai retak. “Ehh, apa
tidak apa apa mejanya kau retakkan?” sahutnya santai.
Aku dan Anna saling berpandangan. Kami
semua terdiam. Akhirnya Anna yang menjawab pertanyaannya. “Akura, meja itu
tidak ada yang menduduki,”
“Shiko Lana yang sebelumnya
menduduki tempat itu di skors keluar sekolah lalu bunuh diri,” komentarku. “Dan
sekarang, Licu berteman dengannya,”
Greeek. Pintu kelasku tiba tiba
terbuka. “Wah, ada apa? Kenapa suasananya suram?” ujar orang itu. Kami semua
yang ada di dalam kelas menghela nafas bersama. Ternyata dia temanku, Werd. “Kalian
membicarakan tentang Shiko ya,” gumamnya sedih.
Jam di kelasku sudah mulai
menunjukkan pukul 07.00 dan hanya 6 anak yang datang. Aku, Akura, Werd, Anna,
Licore, dan Layu. Kalau mau tahu, anak di kelasku hanya 15 orang dan sekarang
tersisa 8 saja. Mau tahu ke mana? Mereka depresi dan tidak kuat dengan kekuatan
yang mereka miliki.
Aku sedih, kenapa mereka tidak pernah
mensyukuri apa yang mereka miliki. Justru dengan kekuatan itu mereka bisa
bertambah kuat bukan melemah. Yang tersisa hanya beberapa dan jika mereka ada
yang pergi lagi kelas ini akan dihapus. Wali kelasku, Mr. Rash, yang bilang. “Kami
tahu kalian unik dan hebat. Tapi sampai kelas ini ada kasus lagi, kita
hilangkan,” ujar beliau. Padahal kami nyaman di sini.
“Akura anak baru. Dia belum tahu apa
apa tentang kelas ini,” komentar Layu sama dinginnya denganku. “Kelas ini sudah
mendapat 7 kasus pembunuhan dan kita yang tersisa,” balasku. “Aku ingin kau
menguatkan hatimu atau kau akan seperti mereka,”
“Kenapa kalian depresi? Bukannya
menyenangkan punya kekuatan?” tanya Akura balik. “Bodoh. Anak anak seperti kita
akan lebih mudah kena bullying karena kita tidak bisa bergaul seperti anak
normal,” jawab Werd.
“Yang dibutuhkan anak anak hanya 2,
ilmu dan teman,” seru Anna serius. “Tanpa satu di antara mereka, kau lumpuh,”
Brak! Pintu kelas kami terbuka
dengan kencang. Masuk seorang guru dengan kemeja lusuh dan berantakan. Kacamata
ber-frame tebalnya menghiasi wajah menyenangkan guru itu. Beliau adalah Mr.
Rash. Orang baik dengan humor tinggi dan mudah mengajari kami. Sama seperti
kami, beliau orang khusus.
“Anak anak, bapak punya kabar
gembira untuk kalian,” seru Mr. Rash bersemangat sambil mengacungkan jarinya. Kami
semua hanya terdiam. Tidak ada yang berkomentar. “Kali ini, kelas kita ikut
kemah!”
No comments:
Post a Comment